Senin, 01 November 2021

Waktu Tidak Dapat Berjalan Sendiri Tanpa Pengendali

Apakah kau merasakan hal serupa: hari ke hari sedemikian sibuk?
Banyak pekerjaan yang tidak akan pernah selesai
Sampai ketir didada entah karena apa, terabaikan sudah
Beberapa kali teringat ingin bersapa namun terlewat dengan kesibukan semu
Sibuk pada yang kasat mata

=====================================

Padahal sehabis sore itu, aku menyebut namamu menceritakanmu pada seseorang, petanda terlewat begitu saja. Sementara pada sore yang sama, kamu sedang sibuk kesakitan. Kepayahan menyambut maut.

Sendirian. --- Benarkah? Tidak ada satupun yang membisikkan tenang padamu? ---


Dasar si Pisces bodoh! Kerap mengagungkan perasaan dan intuisi tapi berkali-kali kecolongan atas tanda-tanda yang terberi.
Aku pernah memintamu beristirahat sejenak, mengamini langkahmu untuk keluar dari pekerjaan. Bukan, bukan istirahat selamanya. 

Apa rasanya menjadi yang meninggalkan? Berpergian duluan?

Yang aku yakini, sakitmu kini telah lunas. Kebaikanmu mereriung, memberi kesaksian atas keringanan tanganmu semasa hidup.

Sedangkan sejak kabar itu mendarat ditelingaku, aku cuma punya air mata kata kata yang belum sempat aku sampaikan padamu. 

Kau tahu, aku bukan orang yang ingin tidurku diganggu mimpi. Kali ini, aku berharap diberi mimpi kehadiranmu. Dan kita kembali membicarakan bagaimana kesusahan hidup dapat teratasi dengan beberapa botol bir.












Jogja - Semarang
31 Oktober 2021
Teruntuk Ficky: Selamat jalan dan sampai jumpa

Senin, 31 Mei 2021

Berseberangan

Sore tadi aku berjalan kaki menuju tempat perbelanjaan

Jantungku berdentum namamu, seirama dengan langkah kaki yang kemudian menjadi gumam

Seperti ritual yang tergerak terulang

Kata orang ini rindu, hanya bisa terlunaskan jika bertemu
Tidak, aku tidak pinta sebab aku tahu kami punya ikrar pada kata tinggal dan tanggal


Beberapa kali memang
Kami merampas waktu untuk menimbun semu atau satu dua kali rencana tak terlaksana karena ia yang pertama
Tentu bukan maksud kau yang kedua, ketiga, seterusnya, kau hanya ada


Sesampainya di tempat perbelanjaan

Pada pilihan pilihan barang yang kubutuhkan, bibirku tak berhenti melafaz namamu

Merapalkan kata-kata baik agar kau senantiasa selamat 


Kata orang ini rindu, hanya bisa terlunaskan jika bertemu
Tidak, aku tidak pinta sebab aku tahu kami punya ikrar pada kata tinggal dan tanggal


Segeralah bersapa, hanya kau yang ada











Bekasi,
31 Mei 2021
Mengingat: Supernova - Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh

Minggu, 27 Desember 2020

Saling Sulang

Aku pernah patah hingga tak mampu mempertanyakan mengapa
Aku pernah terlena hingga tak mampu lagi menyanggah


Aku tahu kamu tidak lagi tangguh
Aku tahu kamu tidak lagi patuh

Ini bukan rayu tapi aku perlu kamu
Ini bukan semu tapi aku perlu kamu

Bagaimana jika badai itu datang?
Jangan genggam tanganku, usap bahuku

Ingatkan aku pada permainan capit boneka
Kita bertaruh keberuntungan
Kamu dan aku menentukan jarak, saling bekerja untuk menghindari kerugian
Jika keberuntungan berpihak, kita mendekap merayakan

Jangan berharap aku melulu di depanmu sebab aku bisa kapan saja keliru
Menetaplah lebih lama di sampingku, kita bercerita apa saja hingga diam memburu

Bukankah obat penawar adalah hasil dari senyawa yang berbeda?
Maka atas nama semesta kita senyawa dari abai dan acuh, lara dan gelora

Semoga pada pertanyaan-pertanyaan dan perlawanan-perlawanan
Kamu adalah jawaban





Bekasi,
November 2020
Teruntuk Katon

Kamis, 18 Juli 2019

Terimakasih Hindia dan Sal


“Lalu datang dari mana setumpuk kecemasan yang selamanya?”

“Sebab aku gagal di hari yang pernah.”

Aku gagal dimatikan Mama ketika aku berumahkan di dalam perutnya

Aku gagal menolak saat Kakek (dari Ayah) membawaku ke tempat pangkas rambut, sebab ia tak berharap cucu perempuan dengan rambut panjang ikal, melainkan kegagahan dari cucu laki-laki

Aku gagal melindungi Mama dari kecamuk kakak-kakak Ayah karena mereka tak merestui ia menjadi istri adiknya

Aku gagal tuli juga buta saat Ayah dan Ibu saban hari saling melempar cacian juga perabotan

Aku gagal menjaga harga diriku sebagai kakak: maghrib itu, dahiku diserbu kunang-kunang hingga dengkulku lemas, aku terlanjur membaca pembuka kalimat pada sebuah pesan singkat yang nyata: “kak, aku hamil anak dari adikmu”

Pada tutup hari-hari yang gagal, aku memberi janji pada diri bahwa yang terjadi hari ini untuk terakhir kali. Aku pecut diri agar ekstra hati-hati, barangkali godaan menjadi gagal terlihat lebih menggiurkan ketimbang keberhasilan semu. Maka menjadi mawas adalah penting, kepala dan hatiku seperti perlu membaca situasi, perlu membaca gerak-gerik sekitar, perlu membaca suara yang belum genap kalimatnya. Setiap waktu, aku merasa perlu memaknai segalanya yang belum utuh, aku merasa perlu menyusunnya sorang diri. Agar aku tidak kembali ke hari pernah gagal. Satu-satunya pengakuan paling suci pada diri sendiri adalah hal ini benar-benar membuat letih. Aku minta ampun, aku ingin berhenti memaknai kegagalan sekalipun sedang tidur tapi selalu saja ingatan yang paling menyadarkan adalah aku belum juga mati.


“Aku tidak mendengar apa-apa dari mulutmu. Kau hanya mengada-ada, sebenarnya kau hanya gila sebab cantik yang telah terberi.”

“Hahahahahaha. Aku akan makan kamu!”

“Berbaringlah.”

“Tapi kepalaku tidak akan pernah di atas dadamu. Aku enggan merasa pegal. Kau pun.”

“Hahahahaha. Ajari aku, ajari aku merawat sehat serta bahagia.”









Batu Tulis,
18 Juli 2019

Mengingat: Hindia ft. Sal Priadi - Belum Tidur


Rabu, 10 Juli 2019

Kabar Baik

Tak ada ide kapan dan di mana aku belajar bahwa menyebarkan kesakitan dengan cara mengolok-olok adalah terapi untuk mengampuni juga memaafkan diri sendiri.

Dalam cerita sedih yang memang salahmu dan membuatmu menyesal setengah mati. Semula kau rasakan sendiri sayatan rasa bersalahmu, sampai menghujam ulu hati, menyisakan pegal pada punggung, pusing pada kepala hingga mual berkelanjutan, seperti perutmu sudah penuh tapi kau dipaksa terus makan oleh entah siapa.

Kau mengagungkan sakit itu, menyimpannya di tempat paling rahasia dalam dirimu. Sebagai tebusan atas kecerobohan yang mampu mengubah segala rencana bahagia menjadi bencana.

Pada waktunya, tidak ada lara yang panjang umurnya. Kau terbangun di waktu yang tepat, sayat itu kau rasa sebagai lelucon lalu kau menyebarkan cerita masa lalu pada orang-orang sekitarmu tak peduli mereka kenalan lama atau baru. Kau hanya ingin umbar sebanyak-banyaknya sebab kau tiba-tiba merasa cerita itu sudah tidak lagi mewah. Kau tidak perlu pelit berbagi. Dengan begitu kecerebohanmu, penyesalanmu, kepedihanmu milik sekitar. Mereka memaafkanmu memaklumimu sembari tertawa, kau tak perlu lagi pengampunan darinya. Sebab pada sekitar, kau sudah merasa cukup.







Bekasi,
1 Juli 2019

Rabu, 10 April 2019

Tujuh Alyssa

Kepada Alyssa tersayang..

Alyssa,
Maafkan aku karena tahun ini tepat pada tanggal ulang tahunmu, aku sedang berada di Semarang untuk keperluan pekerjaan.

Banyak hal baik yang tidak sama baik dengan tahun kemarin. Namun hidup harus tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Alyssa,
Kamu sudah lancar membaca dan menulis. Setiap kata yang kamu lihat, selalu ingin diucapkanmu. Oleh karena itu mendengar kata yang kamu baca adalah kebahagiaan.

Alyssa,
Usiamu sudah mencapai tahun ke-7, saat ini mungkin kamu mulai mengenal kata Dewasa dan kami tidak bisa mengontrol definisi-definisi yang terendap di kepalamu tentang kedewasaan. Tapi percayalah padaku, jika keinginan menjadi dewasa itu muncul atau bahkan ketika kamu mendengar kata dewasa sebagai pujian untukmu, abaikanlah! Menjadi dewasa sungguh menyebalkan: setiap hari Alyssa, setiap hari kita akan seperti dalam sebuah perlombaan "Saling Menyakiti Juga Menggembirakan" lalu jika kamu sedang merasa kalah atau menang untuk kedua hal itu, kamu akan merayakan dengan air mata yang sama. Tenanglah Alyssa... sebab Jatuh Cinta Itu Biasa Saja.



Peluk Cium,
Addis Nadira




Slipi,
10 April 2019





Mengingat:
Jatuh Cinta Itu Biasa Saja - Efek Rumah Kaca

Rabu, 27 Februari 2019

GOBLOK




Aku bangun dengan sambutan 'Pelacur' dari mulutmu. Sebentar, aku kumpulkan nyawa dulu ya. Oh ini sisa-sisa kebencian tadi malam yang sebelumnya aku menyebutmu 'Binatang'. Setelah kau sebut aku Pelacur, menyusul kalimat tanya darimu “bagaimana rasanya? Sakit seperti kau sebut aku binatang pastinya.”

Lalu kita diam. Aku nangis sedikit tapi tak terlihat mungkin. Setelah itu kita bersiap-siap bekerja, demi menyambung kesedihan sekaligus kegembiraan selanjutnya.

Dalam perjalanan, aku mencerna antara kata Pelacur dengan Binatang. Setara tidak ya? Dengan sisa akal untuk berpikir, aku putuskan bahwa kedua kata itu tidak setara, tidak sebanding. Tidak A ke A. Tidak 1 ke 1. Tidak apel ke apel.

Jadi kau menyebutku Pelacur bukan karena ingin membalas Binatangku tapi karena memang kau menilaiku seperti Pelacur. Kalau begitu kau tidak perlu bertanya “bagaimana rasanya? Sakit seperti kau sebut aku binatang pastinya.”

Dan aku tidak perlu marah bahkan sedih sebab aku tidak bisa mengontrol pikiranmu, penilaianmu terhadapku. Hanya saja jika kau berpikir Pelacur setara dengan Binatang, aku merasa.. merasa..

APAKAH KAU SEGOBLOK ITU?

Jumat, 25 Januari 2019

Datang Bulan

Sayang, tenangkanlah hatimu. Aku memang terlahir untuk menjengkelkan siapa saja. Seperti yang sudah kuucap pada perkenalan pertama kita. Bahkan ini belum seberapa.

Persis sebelum kamu tiba, ia pergi menanggalkan aku. Hari itu, tak ada kesedihan melainkan penuh penyesalan: Kesekian kalinya ditinggal karena aku yang menjengkelkan, ingin aku sekali-kali ditinggal dalam sebaik-baiknya diriku. Tapi aku kalah lagi.

Aku bahkan tak memanggil namanya untuk sekedar ia menengok ke belakang. Padahal aku tahu betul, ia hanya ingin dipanggil. Aku membiarkannya hilang. Meski hari pernikahan beberapa pekan lagi. Aku tak peduli. Sebab aku benar-benar sedang menjengkelkan. Aku selalu menempatkan diri menjadi perempuan yang dipertahankan, hanya itu keahlianku karena aku memang terlahir menjengkelkan siapa saja kapan saja.


Sayang, kota ini sempit, pikiran kita yang luas. Barangkali kamu bertemu dia di waktu yang tidak disepakati, tolong sampaikan: hari itu aku cuma lagi datang bulan.







Slipi,
16 Januari 2018

Jumat, 18 Januari 2019

Sebuah Usaha Menjadi Sadar

Angin terlalu berhembus kencang
Pohon itu tak juga tumbang
namun ranting banyak patah

Sakit yang ia rasa tetap terjaga
Sakit yang ia punya tetap terpelihara
Ia tak ingin benar-benar pulih

Jika nanti yang patah kembali tumbuh
Ia tak akan sedih hanya pedih
Sementara waktu diam-diam mengobati

Tapi ia tahu diri
Sebab pedih yang telah terberi
Adalah bekal untuk ia berdiri
Lalu patah sekali lagi dan lagi






Slipi,
18 Januari 2019

Kamis, 17 Januari 2019

Kangen

Selamat pagi, Lala..
Kapan kita saling bertukar selamat pagi?

Kamu tentu akan menjawab dengan tepat: sejak tanggal 17 bulan 23 tahun ke 24 pada suhu cuaca 27 derajat. Seperti biasa, keahlian yang kau punya: akrab dengan segala rupa angka dan logika.

Bagaimana rasanya bertukar selamat pagi?

Aku tentu akan menjawab dengan tepat: sejak saat itu rindu bergelayut melulu pada lenganmu lenganku.

Kita sering dibuat pegal karenanya tapi temu datang memberi keringanan lalu kita berpeluk, mendaratkan seluruh keresahan hari kemarin dan kemarin. Dalam dada yang saling beradu, kita diam-diam meminta dikasihani Tuhan sekaligus memaksaNya agar esok selalu ada selamat pagi yang ditukar. Begitu seterusnya.

Apa kabar kemarin, Lala?





14 Desember 2018
Semarang





Mengingat:
9996Series
Sudjiwotedjo - Aku Lala Padamu

Jumat, 11 Januari 2019

Membangun Harapan

Malam terasa menyiksa ketika aku berusaha melerai kata per kata pada kalimatmu.
Aku ingin mengerti seluruhnya tujuan ucapan-ucapanmu.

Namun aku tak menemukan apa-apa selain pengharapan. 
Kamu terlalu banyak bicara. Sedang aku terlalu banyak mendengar.

Esok kita akan seperti ini lagi. Kau melulu berbicara, sedang aku sibuk menyambung-nyambungkan per kata hingga kita tenggelam bersama dalam suaramu. Kita entah ada dimana.






Kamar,
10 Januari 2019

Fantasi

Bersandar dulu barang sebentar, sayang. Aku masih di sini untuk waktu yang kau tak dapat duga.
Kau bisa berkhayal apa saja di punggungku. Punggung yang kau puja.

Ketika telur dadar yang sudah kumasak dan kau asik menyantap. Aku lekas pergi. Meninggalkanmu bersama sisa khayal dan sisa-sisa minyak telur dadar di bibirmu.

Jangan marah atas penanggalanku. Ingatlah, aku tak memberimu mimpi. Khayalanmu segera pudar terbawa kenyang. Kau cuma lapar dan butuh makan.








Kamar,
10 Januari 2019

Kamis, 19 Juli 2018

Riwayat Pernikahan

"Kami berangkat berdua menuju kota pernikahan dari kota yang sama, kota kebencian."

Ia membuka obrolannya pada suatu pagi yang salah, di dalam sebuah bis tanpa tujuan. Aku mendengarkan sembari lekat-lekat memandang wajahnya.

"Bekal syarat-syarat dan kesepakatan-kesepakatan antar pelaku dan korban telah kami dan dibantu kedua keluarga memasaknya matang-matang juga tak lupa porsi yang sekiranya adil untuk kami tidak kelaparan sesampainya di kota pernikahan."

Aku memandangi seluruh wajahnya dan masih mendengarkan.

"Setelah kejadian itu, kami memang harus menikah, maksudku aku yang harus menikahinya. Menikahinya akan lebih mudah daripada aku hidup di penjara bukan?"

Aku masih belum berani menyela kata-kata yang keluar dari mulutnya. Meski dalam beberapa saat, ia sempat terdiam. Sesekali ia menoleh ke jendela, sementara badannya masih bersandar pada bangku yang tak sesuai bentuk punggung.

Bis melaju dalam kecepatan stabil. Pagi hari itu di jalan bebas hambatan, kemacetan seperti biasanya memang tak terjadi. 

Di sisi jalan, dari jendela kami melihat sebuah mobil keluaran Jerman yang ringsek. Entah apa penyebabnya. Seluruh penumpang mobil itu sudah tak terlihat. Hanya ada beberapa petugas yang mengamati sisa-sisa bentuk mulus kendaraan berharga miliaran rupiah itu.

"Apakah hidup ini seperti mengendarai mobil di jalan tol? Hampir semua mulus tapi tetap ada saja yang celaka?"

Aku ingin menjawabnya. Telah kupersiapkan jawaban yang paling tepat untuk mengatasi nasib buruknya. Tapi kubatalkan. Aku masih bertahan dalam kediamanku sambil tetap memandangi raut wajahnya.

"Malam itu kami menyelesaikan masalah dengan satu-satunya solusi: saling hantam. Detik itu kami lupa rasanya mengasihi, kami lupa nikmatnya menggelinjang, kami lupa pada senja yang menyumbang sebuah ciuman mesra. Mata kami, kepala kami saling melihat kekacauan, kebisingan, kecurangan, permusuhan."

Aku sedikit membuang arah pandang, ada air yang segera jatuh deras. Aku ingin rengkuh kepalanya, kedua kantung matanya terbenamlah di bahuku. Bahuku yang baik, bahuku yang cantik akan mampu membuatmu istirahat sempurna. Segeralah.

Tanpa sempat kukatakan keinginanku, ia telah merebahkan kepalanya di bahuku. Tanganku membelai rambutnya pelan.

Adegan itu mengingatkanku pada masa lalu. Aku tahu dari raut wajahnya, usianya belum menginjak seperempat abad. Hidupnya harus berakhir dalam pelaminan yang sebenarnya tak dinginkan.

Tepat 10 tahun lalu, aku merasakan apa yang dialaminya kini. Mengawini seseorang yang tak kuinginkan. Semuanya berawal dari sebuah kamar hotel seharga tak lebih dari sejuta di daerah Kemang. 

Kami berdua dimabuk asmara ketika itu. Dua botol bir ditambah canda tawa basi menjadi pembukanya. Semua terjadi dengan sangat cepat. Ia membuka seluruh gaunku dengan semangat. Aku pun menikmatinya.

Selang dua bulan, baru aku sadar tak ada tamu yang datang. Seperti kebanyakan perempuan, tentu saja aku panik. Ayahku yang seorang kyai di kampung pasti akan murka. Ibuku, jika kabar itu sampai, pilihannya dua: tak mengakui sebagai anak atau mati karena jantung yang tak kuat.

Aku putuskan untuk menemui lelaki itu. Bukan. Bukan meminta pertanggungjawaban. Aku hanya ingin dia tahu bahwa darahnya telah mengalir di dalam diriku. Hanya itu.

Ia terkejut, tapi siap menikahiku. Aku pun tak memiliki pilihan lain. Aku tak mau ibuku mati dan ayahku malu. Bukan berarti aku menyayangi mereka. Tapi karena perlu. Lagipula, aku tak tahu lagi harus melalukan apa. Menggugurkan nyawa yang belum pernah lahir adalah tindakan semena-mena.

Begitulah. Aku akhirnya terjebak dalam perkawinan. Tak ada pesta. Memang tak perlu, pikirku.

Ia yang sejak tadi banyak bicara, sekarang tinggal diam. Sementara pikiranku jauh berkelana ke masa lalu. Bis kami tetap berjalan entah menuju ke mana.

*******************

"Kamu punya bekas luka di mana?"

Pertanyaan itu membuat aku harus melompat jauh dari masa lalu lain ke masa lalu lainnya. 

"Banyak. Aku gampang ceroboh dalam melangkah. Pernah, aku bermain petak umpet bersama sepupu-sepupu, aku sedang mencari tempat untuk sembunyi, karena ramai kami saling bertabrakan, berebut tempat sembunyi yang tak banyak untuk seukuran rumah nenek. Apesnya, keningku malah menabrak ujung lemari kakek alhasil persis di tengah keningku robek. Saat itu aku hanya merasa sempoyongan sambil meneruskan mencari tempat persembunyian, dalam lari kecil ada darah menetes ke lantai. Seorang sepupu histeris, ternyata darah itu cukup banyak mengalir dari keningku. Aku menangis bukan karena kesakitan tapi karena terbawa suasana sepupu-sepupuku yang kompak histeris melihat darah. Saat itu juga, Ibu dan Oom membawa aku ke rumah sakit. Dalam perjalanan, aku tak sama sekali merasa sakit sebab pikiranku penuh dengan adegan setelah ini, pastilah Ibu memarahiku. Sungguh lebih mengerikan daripada melihat darah dari tubuh sendiri."

Sepertinya pertanyaan itu hanya sebagai pengalihan agar ia dapat menikmati ingatan-ingatan yang lebih jauh dari sebelum ia memutuskan untuk pergi ke kota pernikahan.










Berbagai tempat di Jakarta
30 Mei - 2 Juni 2018

Jumat, 20 April 2018

Khianat adalah

Seperti yang sudah, ba'da maghrib, peron 2 stasiun Gondangdia tampak penuh orang, suara pluit, suara pemberitahuan jadwal kereta, serta suara pihak keamanan yang sigap memberi titah pada calon penumpang agar menunggu di dalam garis kuning. 

Tapi saya menangkap sesuatu yang berbeda: aroma. Setelah hujan sekali lebat sore tadi, dalam sembilunya karena kedinginan, ia diam-diam menyimpan udara dari kesibukan isi kepala orang-orang di sana, dari hati yang tergesa, dari bau mulut-mulut yang sedang bercerita namun tak sesuai fakta.

Udara-udara itu semakin membuat Gondangdia kedinginan, dingin yang menghantarkannya pada rasa kesepian. Ia masih ingat betul bagaimana perempuan itu selalu cemas saat hendak ingin keluar stasiun, perempuan itu punya kebiasaan lupa menyimpan kartu keretanya. 

Mulanya pemandangan itu cukup sebagai penghibur Gondangdia tapi setelah lama mengamati, ia menyimpan tanya: bagaimana bisa perempuan itu memelihara semut-semut di dalam kepalanya?

Ini hari ke 23 sejak terakhir ia melihat perempuan itu. Gondangdia rindu tapi ia hanya bisa menunggu. 

Sampai suatu hari ia melihat sekumpulan, ia hafal salah seorangnya pernah bersama perempuan itu. Mereka sedang membicarakan hal yang remeh namun ia mendengar nama perempuan itu disebut, Gondangdia menguping dengan baik.

Tubuh Gondangdia lemas sudah, hatinya ngilu. Tak lagi dingin kini, mata Gondangdia memanas, ada cairan yang ingin segera meluap. Badannya mulai menghangat. Hujan jangan marah, datang lagi. Aku ingin basah.

--------------------------------------------------------------------------

Di lain tempat, seorang perempuan duduk di kursi sebuah bis menuju Bekasi.














Mengingat:
Cerpen dari Anggun Prameswari: Wanita dan Semut-Semut di Kepalanya.
Lagu dari Efek Rumah Kaca: Hujan Jangan Marah




Slipi, 2018

Rabu, 18 April 2018

Enam Alyssa

Kepada yang tersayang, Alyssa..

Setelah entah berapa tahun aku absen menulis surat untukmu..

Tahun ini aku menulis lagi sebab aku tak ingin absen dari waktu yang nampaknya akan menjadi tahun pertama untukmu mengenal "sekolah".

Kamu akan menjadi salah satu siswi Sekolah Dasar, artinya kamu semakin tahu banyak tentang apa-apa yang tidak bisa diberikan Mama, Opa, Susy, aku atau keluargamu di rumah. Sekolah akan menjadi tempat untuk membantumu menjadi anak yang berguna bagi orang tua, nusa, dan bangsa. Ingat ya, hanya membantu selebihnya kamu sendiri yang harus berusaha lebih keras.

Alyssa, kamu telah lulus dari Taman Kanak-kanak. Meski kabar yang aku dengar: kamu lebih lambat dapat membaca daripada teman-teman sekelas. Mama tentu orang pertama yang paling gemetar dadanya saat keluhan tersebut disampaikan oleh Wali kelasmu.

Aku dan Agil juga tak kalah sedih mendengarnya. Bukan, bukan karena kamu yang telat membaca tetapi karena mengapa Wali kelasmu terburu-buru menyampaikan kabar itu dan ternyata kita semua masih harus belajar menerima untuk hidup di negara yang memaksa kita menjadi bagian dari suatu struktur, yang entah dibentuk oleh siapa, apa, dan di mana. Kita masih sibuk dituntun oleh tuntutan sosial, Alyssa. Lambat bukan berarti kamu tidak bisa, kamu tak perlu sama cepat dengan teman-temanmu. Para pelari tidak bisa bersamaan tiba di garis finish yang sama. Jangan khawatir.

Alyssa, kamu jauh lebih cerdas, hebat, dan bersemangat dari semua anak seusiamu yang pernah aku ketahui.

Percayalah Alyssa! Menjadi anak yang berguna bagi orang tua, nusa, dan bangsa tak perlu pintar dalam segala ukuran. Bergunalah dengan cara hebatmu sendiri, Alyssa.

Cukup jadi manusia yang setiap hari belajar menjadi baik dan benar. Dan jangan lupa perkaya rasa penerimaanmu terhadap apapun yang Allah berikan untukmu.


Selamat menjadi Alyssa Putri Salsabila..

Peluk cium
Addis Nadira

Rabu, 03 Desember 2014

Lapangan Blok S

Malam selasa tanggal 1 Desember lalu saya mengajak Bayu --teman mewah saya-- ke Kineforum Misbar di blok S yang menayangkan film Jakarta Hati. Sebetulnya judul-judul yang terdapat pada jadwal pemutaran film di Kineforum Misbar hampir seluruhnya earcatching, cukup untuk menciptakan keinginan datang menonton. Tepat dengan jadwal  saya dan Bayu yang lowong pada malam itu sampailah kami di blok S meski sebelumnya Bayu sempat membatalkan sepihak rencana kami, ah tapi dengan sigap saya langsung pajang muka yang mengerutkan kening dan sedikit memajukan bibir, tanda bahwa saya kecewa sekaligus menjadi tanda Bayu berkata “taik” yang diikuti kalimat “ayok deh. Ngeselin lu” dan horeee kami berangkat. Berangkat dengan jantung deg-deg-an sepanjang perjalanan sebab motor Bayu tak ada rem. Dalam hati, saya panjatkan doa “Tuhan, kabulkan keinginan Bayu mati diusia 27 tahun dan kematianku yang tidak disebabkan kecelakaan.”

Kami tiba di sana ketika film pertama pada malam itu: Si Doel Anak Betawi masih diputar, kira-kira 30 menit kemudian para penonton berbauran keluar, film telah selesai. Kami melihat beragam segmen penonton, yang menarik perhatian saya --bukan kami, sebab Bayu yang bodo amat-- adalah sebagian (mungkin) penduduk sekitar yang selesai menonton lalu sambil menunggu film berikutnya, mereka menyenyam berbagai bekal yang dibawa seperti gorengan, kacang, bahkan nasi dan lauk pauk. Seru sekaliii. Memang design ruang Kineforum Misbar tidak seperti layar tancep namun tempatnya yang di lapangan memberi rasa layar tancep. Tak ada hubungannya sih bekal dan ruang toh yang duduk di bioskop juga sambil mamam. Jadi apa? Jadi Kineforum Misbar itu wah. Setelah menonton  Jakarta Hati, saya mengajak Bayu untuk tidak langsung ke parkiran atau warkop terdekat, saya mengajak setengah memaksanya agar duduk di tengah lapangan blok S sambil meneguk sedikit sisa air mineral botol dan sebanyak sisa rokok. Saya ingin menikmati euforia Jakarta Hati di tempat selapang itu. Wusss jangan bayangkan keromantisan pada adegan ini, itu tidak akan terpotret dari kami tapi saya jamin  dalam diri kami adegan ini tercatat dan nantinya terulang kembali dalam rasa serta akal saat kami terjebak pada keruwetan kota Jakarta.

Seperti biasanya, dalam keadaan euforia saya selalu mengucap kalimat yang tak tuntas dengan mata mengawang. Bayu meladeni sekenanya sampai kemudian saya dan Bayu terlibat diskusi singkat mengenai film Jakarta Hati --nanti saya ceritakan detilnya tapi nanti kalo sempat-- Bayu sempat bertanya pada saya “kenapa gak sekalian dibikin kayak layar tancep aja ya, Nyet? Kalo ada registrasinya kan masih keliatan eksklusip.” Saya menjawab “iya sih masih eksklusip eh tapi nggak deh. Eh tapi kalo tempatnya gak dibikin begitu, tadi ditengah cerita film gue gak bakal rasain sensasi  mesem-mesem sendiri, udah ceritanya begitu eh pas liat ke atas liatnya langit ada bulannya. Keren amat. “ Ada kebahagiaan yang tak terjemahkan oleh kata-kata, ada udara segar yang memberi ruang lega pada yang tertumpuk dalam hati dan pikiran. 

Selamat Ulang Tahun Bayu.. 



Lenteng,
3 Desember 2014

Kamis, 30 Oktober 2014

Perpustakaan

Di sudut ruang perpustakaan duduklah sebotol minuman.
Aku berhadapan dengannya kini. Ia membisu, melirikku pun tidak.
Ia diam dalam kecairannya.
Aku menuju padanya, memeluk, mencium bertubi-tubi.
Ia tetap bisu.

Tak ada lagi dosa yang bisa aku perbuat di perpustakaan ini.
Aku berjalan meninggalkan ia bersama kepulan asap yang kuhembuskan keras-keras pada ujung ubun-ubunnya.
Ia benar-benar berubah, dibiarkannya langkahku berjalan.
Tak tertahan, tak ada pesan.

Para buku mengiringi kepergianku: ada yang menangis, ada yang bernyanyi parau, ada yang membuat teatrikal tentang semacam keberpisahan, ada yang main lompat karet, ada yang menertawakan, ada yang saling merobekkan diri lalu melemparkan puing-puing kertasnya ke langit-langit, ada bermacam-macam yang aku tidak dapat jelas melihat kegiatan mereka.

Sofa-sofa resepsionis membukakan pintu untukku, satu meter sebelum akhirnya aku sampai keluar, ada penanda jalan terpampang seperti peringatan atau memang dua pilihan yang tersedia bagiku: kiri: jalan kesepian, kanan: jalan kesendirian.
…
Di sudut ruang perpustakaan duduklah aku yang sibuk membelai-belai sebotol minuman. Cairannya berisikan ikan kesepian dan ikan kesendirian. Aku bersama kalian sebagaimana kalian membesarkan aku.





Lenteng,
30 Oktober 2014

Diskusi

Pohon bambu yang tak pernah layu sejak kami semester satu menjadi wasit saat kalimat-kalimat kami saling beradu, tak bertemu.

Monster itu kembali datang ke hadapanku. Ia tak tahu malu. Diserahkannya kepala ia padaku, dulu. Sebagai mahar hubungan yang tak menentu. Katanya, ambillah kepalaku agar kita saling berkasih madu. Cepatnya waktu, membuat kalimat itu hanya seperti figuran eftivi yang sambil lalu.

Saat kau menuntut sendiri. Aku telah beri bahkan kali ini aku mau mengerti. Kau pasti menganga melihat aku yang menjlema sebagai seorang yang berpengertian. Apalagi aku sampai di jalan penerimaan.

Salam hangat untuk dadamu yang ketar-ketir..











Lenteng,
September 2014

Sabtu, 04 Oktober 2014

Merajut Mimpi

Sebagaimana kalimat yang aku percaya: malam tidak harus baik-baik saja. Aku membaca cerpen Asmoro karya Djenar yang kusengajakan kegelisahan di dalamnya terendap padaku malam ini. Sebab di sebelah tempatku celentang telah berbaring seorang laki tak bernama. Sebelum ia tertidur mengorok, sudah ia sempatkan bercerita tentang hal yang tak penting untukku ketahui. Tapi ia bercerita, maka keharusanku mendengar, tak ada siapa-siapa di ruangan pengap gelap ini selain kami berdua.

Sebentar lagi. Sebentar lagi mataku terpejam pulas namun gagal karena sesuatu datang padaku. Sebut saja sesuatu itu si Godot. Padahal aku tak sedang menunggunya tapi ia datang cuma-cuma. Sialan! Ingin rasanya aku katakan pada sutradara bahwa Godot telah menyambangiku tanpa aku menanti-nanti, jadi batalkan saja pementasannya. Sia-sia..

Kesia-siaan ini aku genapkan dengan pembacaan berulang cerpen Asmoro karya Djenar pada angka yang tak ganjil. Tapi aku lupa pada angka apa aku berhenti melafalkannya. Tentu bukan pada angka dua. Lebih dari dua juga empat atau enam, sebab tidak ada nyamuk yang mendekatiku. Gerakan menggigilku terlalu gesit menjadi sasaran nyamuk. Sayup-sayup aku melihat gerombolan nyamuk berbaris rapi dari atas kening hingga ujung jempol kaki. Mereka hanya terpukau melihat tubuhku gemetar, barangkali mereka sedang membuat strategi agar bisa hinggap pada kulitku dan menghisap darah berkantong-kantong atau barangkali mereka terpaku menyaksikan getaran badanku yang lincahnya melebihi mereka saat menghindari tepokan tangan manusia yang hobi bersenang melihat darah nyamuk.

Mengutip puisi Tiang Listrik karya Afrizal Malna “aku membiarkan malam membuat balok kayu di punggungku.”

Tapi sebenarnya kutipan tersebut tak mewakilkan diri yang sengaja memberikan kepalanya pada semut-semut. Juga tak mewakilkan diri yang sengaja memberikan hatinya pada musim dingin.


Sampai jumpa pada keresahan lain-lain..






Lenteng,
4 Oktober 2014

Kamis, 21 Agustus 2014

Puisi-nya

Dengar seguk-seguk tangisku, berasal dari kegelisahan mobil ambulans.
Alunan iramanya tercipta oleh tuktiktaktiktuk suara sepatu kuda yang ditutup matanya.
Jangan kau ramalkan seberapa dalam kesedihanku, kau tak mampu.
Kau tak pernah mampu sampai ke dasar hatiku yang dalamnya sedalam ketakutan anak yang dicambuk Ibu jika nilai ujian berangka dua.


Sejak dulu, selalu ada sembilu yang rasanya teramat ngilu.
Rasanya kerap kuungkap dalam bunyi-bunyi tangis yang menggetarkan dada.
Coba kau dengar keindahan nyanyian tangisan ini, tentu kau bergembira hati sebab katamu aku lebih baik bernyanyi tangis daripada berdiam gagu.





Kamar,
19 Agustus 2014