Minggu, 10 Maret 2013

Lelaki yang Terduga


Kepada lelaki yang terduga
Kamu tidak perlu berpura-pura menjadi monster
Aku sudah menduga kamu, menduga bayanganmu
Kata menjembatani kita

Sampai pagi ini kamu berbaring disampingku
Mengucap selamat pagi diiringi kecup kening yang sungguh manis
Hidup harus tahu
Ada monster yang lelah menopang kepalanya
Ia butuh hati

Kepada lelaki yang terduga
Aku punya hati
Hati yang sudah menduga kamu sejak dulu
Hati yang meninggalkan kepalanya pada kamu

Hidup harus tahu
Kepala dan hati kami sudah bersenggama
Saling memeluk
Dan hidup membisikkan kami: Nikmatilah! Kalian tidak bisa lagi saling menduga

Senin, 29 Oktober 2012

Salam kenal, Khaila


Salam kenal, Khaila
Kemarin senja, seseorang menceritakan kamu. Seseorang yang menyayangi kamu tanpa tahu harus bagaimana..
Seperti kamu yang ingin berbicara tentang kegelisahan tanpa kamu tahu bagaimana memulainya, selain dengan bungkam dalam marah dan tangis..


Aku harap kita bisa bertemu
Ada yang ingin aku bisikkan, rahasia kesendirian
Jangan takut Khaila
Aku akan menikmati kemarahanmu

Jika hari ini bonekamu membosankan
Menangislah
Jangan takut..
Jika hari ini kamu merasa dunia membangunkanmu dengan semena
Kamu harus marah
Lalu aku mengelus ubun-ubunmu

Tidurlah Khaila
Hari ini kamu sudah terlalu lelah
Esok akan baik-baik saja
Kemarahan akan menjadikan kamu cerdas
Kecerdasan yang kelak meredam kemarahanmu
Tenanglah Khaila
Kesendirian tidak ada lagi yang sendiri





2012

Minggu, 14 Oktober 2012

Melebihi Kata (II)


Puisi ini keisengan yg berangkat dari obrolan tengah malam di Ym. Awal puisi ini dimulai oleh Mas We. Lalu saya memberikan dua respon, versi I yang katanya terlihat seperti “tanggapan” dan versi II yang  katanya terlihat seperti “lanjutan”. Kolaborasi puisi pendek yang spontanitas, ya begitulah saya menyebutnya. Dan malam ini baru dapet ijin dari Mas We untuk dimuat ke blog saya. 



Aku membaca dan menulismu

Antara resah dan malam basah yang selalu menyapu kisah semanis kata-kata yg menumpah di dada

Aku lacur dalam perbuatan

Aku kupak dari setiap kata, tawa dan air mata

Langkah yang kering membawaku pada kemesraan malam dan menyerahkanku pada kesementaraan


Mungkin semua itu bagian dari peranku

Aku cuma seorang pemalu yang pintar bikin orang mau

Segala lacur dan kupak yg kupunya, aku rangkai menjadi senjata

Setidaknya senjata itu berhasil membawaku pada kemesraan kesementaraan

Aku bebas bahagia menikmatinya sebelum aku dalam ketidakbebasan berbahagia






Kamar dan kamar,
21 September 2012

Melebihi Kata (I)


Puisi ini keisengan yg berangkat dari obrolan tengah malam di Ym. Awal puisi ini dimulai oleh Mas We. Lalu saya memberikan dua respon, versi I yang katanya terlihat seperti “tanggapan” dan versi II yang  katanya terlihat seperti “lanjutan”. Kolaborasi puisi pendek yang spontanitas, ya begitulah saya menyebutnya. Dan malam ini baru dapet ijin dari Mas We untuk dimuat ke blog saya.



Aku membaca dan menulismu

Antara resah dan malam basah yang selalu menyapu kisah semanis kata-kata yg menumpah di dada

Aku lacur dalam perbuatan

Aku kupak dari setiap kata, tawa dan air mata

Langkah yang kering membawaku pada kemesraan malam dan menyerahkanku pada kesementaraan


Yang kamu sebut kesementaraan adalah waktu yang dibuat bersama

Kepekaan membawa kesepakatan tanpa kesadaran

Tidurlah,

Biar aku genapkan perbuatanmu yg lacur, katamu yg kupak, juga tawa dan air mata

Kamu tidak harus melulu membaca dan menuliskan ku

Cukup kamu tahu tidak perlu mengerti







Kamar dan kamar,
21 September 2012

(Tidak) Baik-baik saja


Kembali aku terhuyun dalam kemelaratan hati yang tidak jelas kapan bisa kaya

Dan lagi aku terguncang dalam deras desir darah yang jarang sekali mengalir dengan tenang

Aku benci membicarakan aku

Aku bosan menjadikan aku subjek dari cerita ku

Diluar sana sering aku dengar kamu menyebut aku

Kamu sering melibatkan aku dalam ceritamu

Sampai aku kebisingan

Sementara aku masih disini dengan langit yang sama

dan sendiri

Aku (sengaja) takut untuk melibatkan kamu bahkan aku juga (sengaja) takut menyebut kamu

Menopang segala atas aku sudah susahnya setengah mati, sesak

Itu yang membuat aku tidak ingin ada kamu, aku tidak mau (lagi) kamu menumpang nama dalam aku

Esok pagi menemui aku dan kamu, semua selesai dan baik-baik saja

Lalu malam menemui aku dan kamu, semua tidak selesai dan tidak baik-baik saja






Kamar,
14 Oktober 2012

Sabtu, 22 September 2012

Untuk Para Kamu

Untuk para kamu yang aku buat kepalang
Untuk para kamu yang buat aku kepalang

Untuk para kamu yang membebaskanku dari kata ikatan
Untuk para kamu yang aku bebaskan dari kata ikatan

Untuk para kamu yang menikmati ramah tangan ku
Untuk para kamu yang aku nikmati ramah tangan mu

Untuk para kamu yang menjadi cerita ku
Untuk para kamu yang menjadikanku cerita mu

Untuk para kamu yang bertopeng pengharapan
Untuk para kamu yang aku temui dengan topeng pengharapan

Untuk para kamu yang meladeni permainan ku
Untuk para kamu yang aku ladeni permainan mu

Untuk para kamu yang aku butuhkan
Untuk para kamu yang menjadikanku kebutuhan mu

Terimakasih untuk para kamu. Aku bersuka cita dalam setiap adegan kita.






Kampus,
17 September 2012

Rabu, 04 Juli 2012

Dara Muda

Gemerlap dunia menos

Menidurkan kami sang Dara Muda

Dalam tarian indah

Melayang pada abad 21

Minimalitas andalan gaya masa modern

Otak yang minim menjadi daya tarik sang era

Ditengah aku beradab melampaui kemampuan bijak

Kami ringkih melukis keinginan demi keindahan hidup

Kebutuhan menjadi gagasan utama keinginan

Kekalahan mengendalikan nafsu hal biasa yang kami pertontonkan

Merayu kepalsuan menjadi hak paten panggung kehidupan

Merangkai nafsu berkemasan alasan

Inilah masa kami, kami sang Dara Muda







Gandaria,
17 Juli 2010