Rabu, 27 Februari 2019

GOBLOK




Aku bangun dengan sambutan 'Pelacur' dari mulutmu. Sebentar, aku kumpulkan nyawa dulu ya. Oh ini sisa-sisa kebencian tadi malam yang sebelumnya aku menyebutmu 'Binatang'. Setelah kau sebut aku Pelacur, menyusul kalimat tanya darimu “bagaimana rasanya? Sakit seperti kau sebut aku binatang pastinya.”

Lalu kita diam. Aku nangis sedikit tapi tak terlihat mungkin. Setelah itu kita bersiap-siap bekerja, demi menyambung kesedihan sekaligus kegembiraan selanjutnya.

Dalam perjalanan, aku mencerna antara kata Pelacur dengan Binatang. Setara tidak ya? Dengan sisa akal untuk berpikir, aku putuskan bahwa kedua kata itu tidak setara, tidak sebanding. Tidak A ke A. Tidak 1 ke 1. Tidak apel ke apel.

Jadi kau menyebutku Pelacur bukan karena ingin membalas Binatangku tapi karena memang kau menilaiku seperti Pelacur. Kalau begitu kau tidak perlu bertanya “bagaimana rasanya? Sakit seperti kau sebut aku binatang pastinya.”

Dan aku tidak perlu marah bahkan sedih sebab aku tidak bisa mengontrol pikiranmu, penilaianmu terhadapku. Hanya saja jika kau berpikir Pelacur setara dengan Binatang, aku merasa.. merasa..

APAKAH KAU SEGOBLOK ITU?

Jumat, 25 Januari 2019

Datang Bulan

Sayang, tenangkanlah hatimu. Aku memang terlahir untuk menjengkelkan siapa saja. Seperti yang sudah kuucap pada perkenalan pertama kita. Bahkan ini belum seberapa.

Persis sebelum kamu tiba, ia pergi menanggalkan aku. Hari itu, tak ada kesedihan melainkan penuh penyesalan: Kesekian kalinya ditinggal karena aku yang menjengkelkan, ingin aku sekali-kali ditinggal dalam sebaik-baiknya diriku. Tapi aku kalah lagi.

Aku bahkan tak memanggil namanya untuk sekedar ia menengok ke belakang. Padahal aku tahu betul, ia hanya ingin dipanggil. Aku membiarkannya hilang. Meski hari pernikahan beberapa pekan lagi. Aku tak peduli. Sebab aku benar-benar sedang menjengkelkan. Aku selalu menempatkan diri menjadi perempuan yang dipertahankan, hanya itu keahlianku karena aku memang terlahir menjengkelkan siapa saja kapan saja.


Sayang, kota ini sempit, pikiran kita yang luas. Barangkali kamu bertemu dia di waktu yang tidak disepakati, tolong sampaikan: hari itu aku cuma lagi datang bulan.







Slipi,
16 Januari 2018

Jumat, 18 Januari 2019

Sebuah Usaha Menjadi Sadar

Angin terlalu berhembus kencang
Pohon itu tak juga tumbang
namun ranting banyak patah

Sakit yang ia rasa tetap terjaga
Sakit yang ia punya tetap terpelihara
Ia tak ingin benar-benar pulih

Jika nanti yang patah kembali tumbuh
Ia tak akan sedih hanya pedih
Sementara waktu diam-diam mengobati

Tapi ia tahu diri
Sebab pedih yang telah terberi
Adalah bekal untuk ia berdiri
Lalu patah sekali lagi dan lagi






Slipi,
18 Januari 2019

Kamis, 17 Januari 2019

Kangen

Selamat pagi, Lala..
Kapan kita saling bertukar selamat pagi?

Kamu tentu akan menjawab dengan tepat: sejak tanggal 17 bulan 23 tahun ke 24 pada suhu cuaca 27 derajat. Seperti biasa, keahlian yang kau punya: akrab dengan segala rupa angka dan logika.

Bagaimana rasanya bertukar selamat pagi?

Aku tentu akan menjawab dengan tepat: sejak saat itu rindu bergelayut melulu pada lenganmu lenganku.

Kita sering dibuat pegal karenanya tapi temu datang memberi keringanan lalu kita berpeluk, mendaratkan seluruh keresahan hari kemarin dan kemarin. Dalam dada yang saling beradu, kita diam-diam meminta dikasihani Tuhan sekaligus memaksaNya agar esok selalu ada selamat pagi yang ditukar. Begitu seterusnya.

Apa kabar kemarin, Lala?





14 Desember 2018
Semarang





Mengingat:
9996Series
Sudjiwotedjo - Aku Lala Padamu

Jumat, 11 Januari 2019

Membangun Harapan

Malam terasa menyiksa ketika aku berusaha melerai kata per kata pada kalimatmu.
Aku ingin mengerti seluruhnya tujuan ucapan-ucapanmu.

Namun aku tak menemukan apa-apa selain pengharapan. 
Kamu terlalu banyak bicara. Sedang aku terlalu banyak mendengar.

Esok kita akan seperti ini lagi. Kau melulu berbicara, sedang aku sibuk menyambung-nyambungkan per kata hingga kita tenggelam bersama dalam suaramu. Kita entah ada dimana.






Kamar,
10 Januari 2019

Fantasi

Bersandar dulu barang sebentar, sayang. Aku masih di sini untuk waktu yang kau tak dapat duga.
Kau bisa berkhayal apa saja di punggungku. Punggung yang kau puja.

Ketika telur dadar yang sudah kumasak dan kau asik menyantap. Aku lekas pergi. Meninggalkanmu bersama sisa khayal dan sisa-sisa minyak telur dadar di bibirmu.

Jangan marah atas penanggalanku. Ingatlah, aku tak memberimu mimpi. Khayalanmu segera pudar terbawa kenyang. Kau cuma lapar dan butuh makan.








Kamar,
10 Januari 2019

Kamis, 19 Juli 2018

Riwayat Pernikahan

"Kami berangkat berdua menuju kota pernikahan dari kota yang sama, kota kebencian."

Ia membuka obrolannya pada suatu pagi yang salah, di dalam sebuah bis tanpa tujuan. Aku mendengarkan sembari lekat-lekat memandang wajahnya.

"Bekal syarat-syarat dan kesepakatan-kesepakatan antar pelaku dan korban telah kami dan dibantu kedua keluarga memasaknya matang-matang juga tak lupa porsi yang sekiranya adil untuk kami tidak kelaparan sesampainya di kota pernikahan."

Aku memandangi seluruh wajahnya dan masih mendengarkan.

"Setelah kejadian itu, kami memang harus menikah, maksudku aku yang harus menikahinya. Menikahinya akan lebih mudah daripada aku hidup di penjara bukan?"

Aku masih belum berani menyela kata-kata yang keluar dari mulutnya. Meski dalam beberapa saat, ia sempat terdiam. Sesekali ia menoleh ke jendela, sementara badannya masih bersandar pada bangku yang tak sesuai bentuk punggung.

Bis melaju dalam kecepatan stabil. Pagi hari itu di jalan bebas hambatan, kemacetan seperti biasanya memang tak terjadi. 

Di sisi jalan, dari jendela kami melihat sebuah mobil keluaran Jerman yang ringsek. Entah apa penyebabnya. Seluruh penumpang mobil itu sudah tak terlihat. Hanya ada beberapa petugas yang mengamati sisa-sisa bentuk mulus kendaraan berharga miliaran rupiah itu.

"Apakah hidup ini seperti mengendarai mobil di jalan tol? Hampir semua mulus tapi tetap ada saja yang celaka?"

Aku ingin menjawabnya. Telah kupersiapkan jawaban yang paling tepat untuk mengatasi nasib buruknya. Tapi kubatalkan. Aku masih bertahan dalam kediamanku sambil tetap memandangi raut wajahnya.

"Malam itu kami menyelesaikan masalah dengan satu-satunya solusi: saling hantam. Detik itu kami lupa rasanya mengasihi, kami lupa nikmatnya menggelinjang, kami lupa pada senja yang menyumbang sebuah ciuman mesra. Mata kami, kepala kami saling melihat kekacauan, kebisingan, kecurangan, permusuhan."

Aku sedikit membuang arah pandang, ada air yang segera jatuh deras. Aku ingin rengkuh kepalanya, kedua kantung matanya terbenamlah di bahuku. Bahuku yang baik, bahuku yang cantik akan mampu membuatmu istirahat sempurna. Segeralah.

Tanpa sempat kukatakan keinginanku, ia telah merebahkan kepalanya di bahuku. Tanganku membelai rambutnya pelan.

Adegan itu mengingatkanku pada masa lalu. Aku tahu dari raut wajahnya, usianya belum menginjak seperempat abad. Hidupnya harus berakhir dalam pelaminan yang sebenarnya tak dinginkan.

Tepat 10 tahun lalu, aku merasakan apa yang dialaminya kini. Mengawini seseorang yang tak kuinginkan. Semuanya berawal dari sebuah kamar hotel seharga tak lebih dari sejuta di daerah Kemang. 

Kami berdua dimabuk asmara ketika itu. Dua botol bir ditambah canda tawa basi menjadi pembukanya. Semua terjadi dengan sangat cepat. Ia membuka seluruh gaunku dengan semangat. Aku pun menikmatinya.

Selang dua bulan, baru aku sadar tak ada tamu yang datang. Seperti kebanyakan perempuan, tentu saja aku panik. Ayahku yang seorang kyai di kampung pasti akan murka. Ibuku, jika kabar itu sampai, pilihannya dua: tak mengakui sebagai anak atau mati karena jantung yang tak kuat.

Aku putuskan untuk menemui lelaki itu. Bukan. Bukan meminta pertanggungjawaban. Aku hanya ingin dia tahu bahwa darahnya telah mengalir di dalam diriku. Hanya itu.

Ia terkejut, tapi siap menikahiku. Aku pun tak memiliki pilihan lain. Aku tak mau ibuku mati dan ayahku malu. Bukan berarti aku menyayangi mereka. Tapi karena perlu. Lagipula, aku tak tahu lagi harus melalukan apa. Menggugurkan nyawa yang belum pernah lahir adalah tindakan semena-mena.

Begitulah. Aku akhirnya terjebak dalam perkawinan. Tak ada pesta. Memang tak perlu, pikirku.

Ia yang sejak tadi banyak bicara, sekarang tinggal diam. Sementara pikiranku jauh berkelana ke masa lalu. Bis kami tetap berjalan entah menuju ke mana.

*******************

"Kamu punya bekas luka di mana?"

Pertanyaan itu membuat aku harus melompat jauh dari masa lalu lain ke masa lalu lainnya. 

"Banyak. Aku gampang ceroboh dalam melangkah. Pernah, aku bermain petak umpet bersama sepupu-sepupu, aku sedang mencari tempat untuk sembunyi, karena ramai kami saling bertabrakan, berebut tempat sembunyi yang tak banyak untuk seukuran rumah nenek. Apesnya, keningku malah menabrak ujung lemari kakek alhasil persis di tengah keningku robek. Saat itu aku hanya merasa sempoyongan sambil meneruskan mencari tempat persembunyian, dalam lari kecil ada darah menetes ke lantai. Seorang sepupu histeris, ternyata darah itu cukup banyak mengalir dari keningku. Aku menangis bukan karena kesakitan tapi karena terbawa suasana sepupu-sepupuku yang kompak histeris melihat darah. Saat itu juga, Ibu dan Oom membawa aku ke rumah sakit. Dalam perjalanan, aku tak sama sekali merasa sakit sebab pikiranku penuh dengan adegan setelah ini, pastilah Ibu memarahiku. Sungguh lebih mengerikan daripada melihat darah dari tubuh sendiri."

Sepertinya pertanyaan itu hanya sebagai pengalihan agar ia dapat menikmati ingatan-ingatan yang lebih jauh dari sebelum ia memutuskan untuk pergi ke kota pernikahan.










Berbagai tempat di Jakarta
30 Mei - 2 Juni 2018