Jumat, 25 Januari 2019

Datang Bulan

Sayang, tenangkanlah hatimu. Aku memang terlahir untuk menjengkelkan siapa saja. Seperti yang sudah kuucap pada perkenalan pertama kita. Bahkan ini belum seberapa.

Persis sebelum kamu tiba, ia pergi menanggalkan aku. Hari itu, tak ada kesedihan melainkan penuh penyesalan: Kesekian kalinya ditinggal karena aku yang menjengkelkan, ingin aku sekali-kali ditinggal dalam sebaik-baiknya diriku. Tapi aku kalah lagi.

Aku bahkan tak memanggil namanya untuk sekedar ia menengok ke belakang. Padahal aku tahu betul, ia hanya ingin dipanggil. Aku membiarkannya hilang. Meski hari pernikahan beberapa pekan lagi. Aku tak peduli. Sebab aku benar-benar sedang menjengkelkan. Aku selalu menempatkan diri menjadi perempuan yang dipertahankan, hanya itu keahlianku karena aku memang terlahir menjengkelkan siapa saja kapan saja.


Sayang, kota ini sempit, pikiran kita yang luas. Barangkali kamu bertemu dia di waktu yang tidak disepakati, tolong sampaikan: hari itu aku cuma lagi datang bulan.







Slipi,
16 Januari 2018

Jumat, 18 Januari 2019

Sebuah Usaha Menjadi Sadar

Angin terlalu berhembus kencang
Pohon itu tak juga tumbang
namun ranting banyak patah

Sakit yang ia rasa tetap terjaga
Sakit yang ia punya tetap terpelihara
Ia tak ingin benar-benar pulih

Jika nanti yang patah kembali tumbuh
Ia tak akan sedih hanya pedih
Sementara waktu diam-diam mengobati

Tapi ia tahu diri
Sebab pedih yang telah terberi
Adalah bekal untuk ia berdiri
Lalu patah sekali lagi dan lagi






Slipi,
18 Januari 2019

Kamis, 17 Januari 2019

Kangen

Selamat pagi, Lala..
Kapan kita saling bertukar selamat pagi?

Kamu tentu akan menjawab dengan tepat: sejak tanggal 17 bulan 23 tahun ke 24 pada suhu cuaca 27 derajat. Seperti biasa, keahlian yang kau punya: akrab dengan segala rupa angka dan logika.

Bagaimana rasanya bertukar selamat pagi?

Aku tentu akan menjawab dengan tepat: sejak saat itu rindu bergelayut melulu pada lenganmu lenganku.

Kita sering dibuat pegal karenanya tapi temu datang memberi keringanan lalu kita berpeluk, mendaratkan seluruh keresahan hari kemarin dan kemarin. Dalam dada yang saling beradu, kita diam-diam meminta dikasihani Tuhan sekaligus memaksaNya agar esok selalu ada selamat pagi yang ditukar. Begitu seterusnya.

Apa kabar kemarin, Lala?





14 Desember 2018
Semarang





Mengingat:
9996Series
Sudjiwotedjo - Aku Lala Padamu

Jumat, 11 Januari 2019

Membangun Harapan

Malam terasa menyiksa ketika aku berusaha melerai kata per kata pada kalimatmu.
Aku ingin mengerti seluruhnya tujuan ucapan-ucapanmu.

Namun aku tak menemukan apa-apa selain pengharapan. 
Kamu terlalu banyak bicara. Sedang aku terlalu banyak mendengar.

Esok kita akan seperti ini lagi. Kau melulu berbicara, sedang aku sibuk menyambung-nyambungkan per kata hingga kita tenggelam bersama dalam suaramu. Kita entah ada dimana.






Kamar,
10 Januari 2019

Fantasi

Bersandar dulu barang sebentar, sayang. Aku masih di sini untuk waktu yang kau tak dapat duga.
Kau bisa berkhayal apa saja di punggungku. Punggung yang kau puja.

Ketika telur dadar yang sudah kumasak dan kau asik menyantap. Aku lekas pergi. Meninggalkanmu bersama sisa khayal dan sisa-sisa minyak telur dadar di bibirmu.

Jangan marah atas penanggalanku. Ingatlah, aku tak memberimu mimpi. Khayalanmu segera pudar terbawa kenyang. Kau cuma lapar dan butuh makan.








Kamar,
10 Januari 2019