Senin, 29 Oktober 2012

Salam kenal, Khaila


Salam kenal, Khaila
Kemarin senja, seseorang menceritakan kamu. Seseorang yang menyayangi kamu tanpa tahu harus bagaimana..
Seperti kamu yang ingin berbicara tentang kegelisahan tanpa kamu tahu bagaimana memulainya, selain dengan bungkam dalam marah dan tangis..


Aku harap kita bisa bertemu
Ada yang ingin aku bisikkan, rahasia kesendirian
Jangan takut Khaila
Aku akan menikmati kemarahanmu

Jika hari ini bonekamu membosankan
Menangislah
Jangan takut..
Jika hari ini kamu merasa dunia membangunkanmu dengan semena
Kamu harus marah
Lalu aku mengelus ubun-ubunmu

Tidurlah Khaila
Hari ini kamu sudah terlalu lelah
Esok akan baik-baik saja
Kemarahan akan menjadikan kamu cerdas
Kecerdasan yang kelak meredam kemarahanmu
Tenanglah Khaila
Kesendirian tidak ada lagi yang sendiri





2012

Minggu, 14 Oktober 2012

Melebihi Kata (II)


Puisi ini keisengan yg berangkat dari obrolan tengah malam di Ym. Awal puisi ini dimulai oleh Mas We. Lalu saya memberikan dua respon, versi I yang katanya terlihat seperti “tanggapan” dan versi II yang  katanya terlihat seperti “lanjutan”. Kolaborasi puisi pendek yang spontanitas, ya begitulah saya menyebutnya. Dan malam ini baru dapet ijin dari Mas We untuk dimuat ke blog saya. 



Aku membaca dan menulismu

Antara resah dan malam basah yang selalu menyapu kisah semanis kata-kata yg menumpah di dada

Aku lacur dalam perbuatan

Aku kupak dari setiap kata, tawa dan air mata

Langkah yang kering membawaku pada kemesraan malam dan menyerahkanku pada kesementaraan


Mungkin semua itu bagian dari peranku

Aku cuma seorang pemalu yang pintar bikin orang mau

Segala lacur dan kupak yg kupunya, aku rangkai menjadi senjata

Setidaknya senjata itu berhasil membawaku pada kemesraan kesementaraan

Aku bebas bahagia menikmatinya sebelum aku dalam ketidakbebasan berbahagia






Kamar dan kamar,
21 September 2012

Melebihi Kata (I)


Puisi ini keisengan yg berangkat dari obrolan tengah malam di Ym. Awal puisi ini dimulai oleh Mas We. Lalu saya memberikan dua respon, versi I yang katanya terlihat seperti “tanggapan” dan versi II yang  katanya terlihat seperti “lanjutan”. Kolaborasi puisi pendek yang spontanitas, ya begitulah saya menyebutnya. Dan malam ini baru dapet ijin dari Mas We untuk dimuat ke blog saya.



Aku membaca dan menulismu

Antara resah dan malam basah yang selalu menyapu kisah semanis kata-kata yg menumpah di dada

Aku lacur dalam perbuatan

Aku kupak dari setiap kata, tawa dan air mata

Langkah yang kering membawaku pada kemesraan malam dan menyerahkanku pada kesementaraan


Yang kamu sebut kesementaraan adalah waktu yang dibuat bersama

Kepekaan membawa kesepakatan tanpa kesadaran

Tidurlah,

Biar aku genapkan perbuatanmu yg lacur, katamu yg kupak, juga tawa dan air mata

Kamu tidak harus melulu membaca dan menuliskan ku

Cukup kamu tahu tidak perlu mengerti







Kamar dan kamar,
21 September 2012

(Tidak) Baik-baik saja


Kembali aku terhuyun dalam kemelaratan hati yang tidak jelas kapan bisa kaya

Dan lagi aku terguncang dalam deras desir darah yang jarang sekali mengalir dengan tenang

Aku benci membicarakan aku

Aku bosan menjadikan aku subjek dari cerita ku

Diluar sana sering aku dengar kamu menyebut aku

Kamu sering melibatkan aku dalam ceritamu

Sampai aku kebisingan

Sementara aku masih disini dengan langit yang sama

dan sendiri

Aku (sengaja) takut untuk melibatkan kamu bahkan aku juga (sengaja) takut menyebut kamu

Menopang segala atas aku sudah susahnya setengah mati, sesak

Itu yang membuat aku tidak ingin ada kamu, aku tidak mau (lagi) kamu menumpang nama dalam aku

Esok pagi menemui aku dan kamu, semua selesai dan baik-baik saja

Lalu malam menemui aku dan kamu, semua tidak selesai dan tidak baik-baik saja






Kamar,
14 Oktober 2012